“Sial… Kapan hujan ini berhenti?”.
“Huft! Hujan lagi… Hujan lagi… Berhentilah hujan!” keluh muslimah tersebut memandangi hujan yang semakin deras.
Awal April 2023 diwarnai dengan musim hujan. Hujan sebagai air yang berjatuhan dari awan karena proses pendinginan nyatanya memiliki beribu makna.
Kehadirannya sangat ditunggu bagi mereka yang kekurangan air, namun di sisi lain kehadirannya dicaci bagi mereka yang merasa terganggu, misalnya hujan tersebut menyebabkan banjir dan membuat orang terhalangi aktivitas dan perjalanannya.
Nah, setiap kita memiliki prespektif berbeda dalam merespon sesuatu, bergantung kondisi dan latarbelakang hidup setiap orang.
Terkadang hal sepele seperti hujan begitu mudah membuat kita terluput untuk mensyukuri nikmat hadirnya musim penghujan di negeri ini. Coba perhatikan bahwa di negeri lain seperti di Arab Saudi, Sudan, Peru dan Afrika yang intensitas hujannya kecil.
Misalnya, di Sudan ada Gurun Sahara dengan Wadi Halfa yang merupakan pusat dari kota tersebut. Kota gurun ini hanya mendapat curah hujan sekitar 0,096 persen setiap tahun. Pernah kah terbayang betapa sulitnya di sana? Lalu, mengapa terkadang kita enggan untuk bersyukur?
Saat hujan semakin deras, semakin besar kutukan kita atas hujan. Hei, kenapa mudah sekali mencela ciptaan-Nya?
Seharusnya kita menyadari bahwa mengeluh bukanlah solusi dan mencela hanya akan mengotori hati serta ingatlah bahwa di belahan dunia sana banyak yang menanti hujan.
Kecewa boleh, tetapi ingatlah bahwa ada ketetapan Allah yang berada di luar kendali kita dan kita hanya bisa menerima, bersyukur dan banyak mengambil hikmah darinya.
Jangan lupa untuk ridha atas ketetapan Allah ketika rencanamu tidak sejalan karena terhalangi hujan dan kebanjiran yang melanda. Jadikan sebagai bahan muhasabah dan pupuklah kesabaran.
Termasuk hal yang sering terlupakan bahwa dari setiap tetesan air hujan, Allah menitipkan harapan untuk berdoa bagi hamba-Nya karena waktu turunnya hujan merupakan salah satu waktu mustajab terkabulnya doa.
Nabi Shallallahu ’Alaihi Wasallam bersabda,
اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ ثَلَاثٍ : عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ ، وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ ، وَنُزُولِ الْغَيْثِ
“Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan : [1] Bertemunya dua pasukan, [2] Menjelang shalat dilaksanakan, dan [3] Saat hujan turun.” (HR. Al Baihaqi, Shahih)
Doa Ketika Turun Hujan
اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا
Allahumma shayyiban nafi’an.
“Ya Allah, curahkanlah air hujan yang bermanfaat.”
(HR Bukhari dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha).
Hujan…
Bukan sekadar membasahi bumi,
Tapi, menitipkan doa bagi hamba yang beriman.
Daripada mencela, bukan kah lebih baik kita banyak berdoa?
Merenungi kembali arti kesabaran,
Mensyukuri nikmat-Nya dan memperbanyak doa di kala hujan.
Penulis: Nur Faida (Pembina IPMI Maros)
Editor: Rezki Novela










