Kiamat Bukan Sekadar Cerita

Fenomena di zaman ini tak sedikit orang-orang yang ragu dan tidak mempercayai akan datangnya hari kiamat, mereka mendustakannya seolah-olah beranggapan bahwa akhirat hanyalah cerita semu belaka sedangkan dunia adalah tempat mereka kekal sehingga menjadikan manusia lalai dari mengingat Rabbnya.

Jangankan pada zaman ini, bahkan jauh pada zaman terdahulu juga banyak kaum yang mendustakan hari (kiamat) tersebut. Sebagaimana yang telah diabadikan dalam kitab-Nya, Allah Azza wa Jalla berfirman,

عَمَّ يَتَسَآءَلُوۡنَ‌ۚ‏ (١) عَنِ النَّبَاِ الۡعَظِيۡمِۙ‏ (٢) الَّذِىۡ هُمۡ فِيۡهِ مُخۡتَلِفُوۡنَؕ (٣) كَلَّا سَيَعۡلَمُوۡنَۙ (٤) ثُمَّ كَلَّا سَيَعۡلَمُوۡنَ‏(٥)

“Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya, Tentang berita yang besar (hari kebangkitan), Yang dalam hal itu mereka berselisih. Tidak! Kelak mereka akan mengetahui, Sekali lagi tidak! Kelak mereka akan mengetahui.” (QS. An-Naba’ : 1-5)

Kemudian untuk membantah keraguan kaum musyrikin tentang datangnya hari kiamat. Di ayat selanjutnya, Allah ‘Azza wa Jalla terlebih dahulu menjelaskan tentang kekuasaan-Nya yang tidak akan ada seorangpun yang mampu untuk melakukan dan mencegahnya kecuali Dia (Allah), sebagaimana yang telah di firmankan-Nya,

اَلَمۡ نَجۡعَلِ الۡاَرۡضَ مِهٰدًا (٦), وَّالۡجِبَالَ اَوۡتَادًا (٧), وَّخَلَقۡنٰكُمۡ اَزۡوَاجًا (٨), وَّجَعَلۡنَا نَوۡمَكُمۡ سُبَاتًا (٩), وَّجَعَلۡنَا نَوۡمَكُمۡ سُبَاتًا (١٠)،وَّجَعَلۡنَا النَّهَارَ مَعَاشًا (١١), وَّبَنَيۡنَا فَوۡقَكُمۡ سَبۡعًا شِدَادًا (١٢), وَّ جَعَلۡنَا سِرَاجًا وَّهَّاجًا (١٣), وَّاَنۡزَلۡنَا مِنَ الۡمُعۡصِرٰتِ مَآءً ثَجَّاجًا (١٤), لِّـنُخۡرِجَ بِهٖ حَبًّا وَّنَبَاتًا (١٥), وَّجَنّٰتٍ اَلۡفَافًا (١٦)

“Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan, dan gunung-gunung sebagai pasak? Dan Kami menciptakan kamu berpasang-pasangan, dan Kami menjadikan tidurmu untuk istirahat, dan Kami menjadikan malam sebagai pakaian, dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan, dan Kami membangun di atas kamu tujuh (langit) yang kokoh, dan Kami menjadikan pelita yang terang-benderang (matahari), dan Kami turunkan dari awan, air hujan yang tercurah dengan hebatnya, untuk Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tanam-tanaman, dan kebun-kebun yang rindang.” (QS. An-Naba ayat 6-16)

Setelah itu kemudian Allah menyakinkan keraguan orang-orang musyrikin akan datangnya hari kiamat,

اِنَّ يَوۡمَ الۡفَصۡلِ كَانَ مِيۡقَاتًا (١٧), يَّوۡمَ يُنۡفَخُ فِى الصُّوۡرِ فَتَاۡتُوۡنَ اَفۡوَاجًا (١٨), وَّفُتِحَتِ السَّمَآءُ فَكَانَتۡ اَبۡوَابًا (١٩).

“Sungguh, hari keputusan adalah suatu waktu yang telah ditetapkan, (yaitu) pada hari (ketika) sangkakala ditiup, lalu kamu datang berbondong-bondong, dan langit pun dibukalah, maka terdapatlah beberapa pintu,” (QS, An-Naba :17-19).

Terdapat pada ayat yang lain, Allah Azza wa Jalla memperlihatkan kepada kita analogi (perumpaman) yang luar biasa akan kepastian datangnya hari kiamat dalam firman-Nya QS, Al-Hajj’ : 5),

يٰۤـاَيُّهَا النَّا سُ اِنْ كُنْـتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّنَ الْبَـعْثِ فَاِ نَّـا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ تُرَا بٍ ثُمَّ مِنْ نُّـطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَّغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّـنُبَيِّنَ لَـكُمْ ۗ وَنُقِرُّ فِى الْاَ رْحَا مِ مَا نَشَآءُ اِلٰۤى اَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوْۤا اَشُدَّكُمْ ۚ وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّتَوَفّٰى وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرَدُّ اِلٰۤى اَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْۢ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْـئًـا ۗ وَتَرَى الْاَ رْضَ هَا مِدَةً فَاِ ذَاۤ اَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَآءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَاَ نْۢبَـتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍۢ بَهِيْجٍ

“Wahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) Kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna agar Kami jelaskan kepada kamu; dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada usia dewasa, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan tetumbuhan yang indah.”

Bukankah semua yang telah disebutkan di atas adalah bukti dari kekuasaan-Nya?!

Sangat jelas ketika kita mentadabburi dan memperhatikan ayat ini, sungguh kita akan mendapati bahwa Allah Azza wa Jalla menghubungkan keraguan manusia akan datangnya hari kiamat dengan penciptaan manusia ketika ia berada di dalam rahim ibunya.

Maka tidakkah kita mengambil pelajaran yang Allah siratkan dalam ayat tersebut?!

Sesungguhnya ketika Allah Azza wa Jalla menciptakan manusia dalam rahim ibunya, Dia memberikan kepada ciptaan-Nya bekal-bekal terbaik, seperti tangan, kaki, mata, hidung, telinga, mulut, dan seluruh anggota tubuh lainnya, hingga jadilah mereka (makhluk) ciptaan-Nya yang sempurna.

Sebagaimana Allah Azza wa Jalla berfirman dalam QS. At-Tin ayat 4,

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ فِيْۤ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,”

Semua perbekalan (anggota tubuh) yang telah Allah ciptakan untuk tiap-tiap hambanya, dulu belum dapat kita ketahui manfaatnya ketika kita masih berada dalam rahim ibu kita. Sebagaimana tangan yang belum dapat digunakan untuk makan, kaki yang belum dapat digunakan untuk berjalan, dan fungsi-fungsi dari anggota tubuh lainnya.

Lihatlah, betapa baiknya dan Maha Pemurahnya Dzat yang menciptakan kita.

Maka, perumpamaan ini sama halnya ketika Allah Azza wa Jalla memerintahkan kita untuk mengumpulkan bekal terbaik didunia. Mengerjakan amal sholeh seperti shalat, puasa, mengaji, sedekah dan amalan ibadah lainnya.

Mungkin saat ini semua ibadah yang telah kita kerjakan belum nampak pahalanya atau keseluruhan manfaatnya ketika kita masih di dunia. Akan tetapi ketahuilah bahwa akan datang hari yang pasti, hari yang dijanjikan, hari dimana kita semua akan dikumpulkan dan melihat semua bekal yang telah kita kumpulkan akan menolong kita kelak di hari akhir (Kiamat).

Adakah di antara kita yang menginginkan dirinya pincang ataukah cacat di hari kebangkitan kelak?!

Tentu tidak, bukan?

Maka, jangan pernah lalai di zaman ini, mungkin kita beranggapan bahwa kesempurnaan fisik adalah nikmat padahal ia adalah sekaligus ujian atau fitnah dari Allah tanpa kita sadari.

Oleh karena itu, di sisa umur dan kesempatan yang masih Allah berikan untuk kita serta tubuh yang sempurna sehat walafiat yang dititipkan, marilah kita gunakan untuk lebih memperbanyak bekal-bekal terbaik yang dapat menemani kita di perjalanan yang begitu panjang dan kekal (akhirat).

Penulis: Hanifah Annisa
Editor: Rezki Novela

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *