Berlalunya Tahun Pertanda Semakin Singkat Waktu Kita di Dunia

Momen pergantian tahun baru saja berlangsung beberapa jam yang lalu, tak sedikit orang-orang di luar sana yang sebelumnya sibuk melakukan  perayaan menyambut datangnya tahun baru 2023.

Di antara hal yang perlu kita waspadai di momen seperti ini adalah kemaksiatan yang mengundang bencana sebagaimana yang kita tahu, bencana telah menerpa beberapa bagian di belahan negeri kita tercinta Republik Indonesia.

Adapun kita seharusnya sebagai seorang muslim hendaknya menyikapi momen pergantian tahun ini dengan :

1) Memperbanyak syukur atas usia yang masih Allah berikan, namun tanpa perlu lagi harus mengadakan sebuah acara apapun yang hanya akan mendatangkan kerugian dan mudhorat.

2) Bermuhasabah, setiap kita hendaknya bersedih atas berlalunya tahun demi tahun, yang berarti sisa umur kita kian berkurang, begitupun dengan amalan-amalan kita.

Selain itu, hal yang perlu dipahami ialah bahwa kita adalah umat di masa sekarang yang paling pendek umurnya, ketika kita melihat perbedaan umur kita dengan umat-umat terdahulu, kita akan mendapati perbedaan yang sangat besar !!

Sebagaimana Allah berfirman dalam kitab-Nya yang mengisahkan tentang umurnya Nabi Nuh alaihissalam:

وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖ فَلَبِثَ فِيْهِمْ اَلْفَ سَنَةٍ اِلَّا خَمْسِيْنَ عَا مًا ۗ فَاَ خَذَهُمُ الطُّوْفَا نُ وَهُمْ ظٰلِمُوْنَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka dilanda banjir besar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang zalim.”

(QS. Al-‘Ankabut: Ayat 14)

Ketika kita mentadabburi ayat tersebut, tentu kita akan memahami bahwa Allah menganugerahkan umur yang panjang kepada ummat Nabi Nuh alaihissalam bahkan sampai ribuan tahun lamanya dan sudah sewajarnya kita akan berfikir bahwa amalan orang-orang beriman terdahulu lebih banyak dibandingkan dengan amalannya umat sekarang, ummat Rasulullah shalallahu alayhi wasallam.

Akan tetapi tahukah kita, bahwa ummat terbaik tetap diberikan kepada kita, meskipun kita adalah yang paling sedikit waktu untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Semua itu karena kita diberikan keistimewaan pelipat gandaan amal yang banyak, sesuai dengan tempat, waktu, dan jenis ibadah yang kita kerjakan,

Ada amalan yang dilipat gandakan pahalanya menjadi 10 pahala seperti membaca 1 huruf dari Al Qur’an, ada amalan yang dilipat gandakan pahalanya menjadi 700 kali lipat seperti pahala sedekah, dan ada amalan yang dilipat gandakan pahalanya dengan kelipatan yang tidak terbatas, seperti pahala kesabaran.

Semua ini bisa kita kejar dan raih di setiap tahunnya. Tidakkah kita sadar bahwasanya apa-apa yang telah terjadi di tengah-tengah kita, seperti halnya;

• Berakhirnya kehidupan sebagian makhluk di dunia ini,

• Wanita yang berpakaian tapi telanjang

• Begitu banyak bencana alam yang kerap terjadi di antaranya seperti gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor, banjir, tsunami, wabah penyakit,

• Maksiat ataupun zina yang merajalela

• Maraknya pembunuhan

• Waktu yang terasa sangat begitu cepat

• Maraknya perbuatan riba, dan lainnya.

Semua yang telah disebutkan atau pun bahkan yang telah terjadi di sekeliling kita, atau yang telah melanda saudara/saudari kita, semua adalah bentuk dari kiamat sugra (Kecil)?!

Terdapat beberapa Nash dalam hal ini, sebagaimana yang telah diriwayatkan dalam sebuah hadits;

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَكْثُرَ الزَّلاَزِلُ

“Tidak akan tiba hari Kiamat hingga banyak terjadi gempa bumi.” (HR. Bukhari)

Adapun, dalam riwayat yang lain juga disebutkan gempa bumi terjadi hampir di seluruh penjuru bumi, sebagaimana yang telah diriwayatkan dalam sebuah hadits;

Ibnu Hajar Al-Asqalani,

Beliau berkata;

قد وقع في كثير من البلاد الشمالية والشرقية والغربية كثير من الزلازل، ولكن الذي يظهر أن المراد بكثرتها: شمولها، ودوامها

“Sungguh gempa banyak terjadi pada negara-negara di utara, timur dan barat, namun yang nampak dari maksudnya lafadz ‘banyak’ adalah mencakup keseluruhan dan terjadi terus-menerus.”

(Fahul Bari 31/93-94)

Lihatlah, Allah telah tampakkan gambaran-gambaran kiamat besar nanti, adapun tanda kiamat sugra belum mampu menyaingi kedahsyatan hari kiamat kelak, yang menghancurkan bumi dan seluruh makhluk-makhlukNya yang ada di dalamnya.

Maka mari kawan, kita jadikan penghujung akhir tahun ini sebagai bahan introspeksi ataupun renungan untuk diri kita, akankah kita akan bertemu dengan tahun-tahun berikutnya?!

Mari kita berusaha di tahun-tahun berikutnya menjadi hamba yang taat kepada sang pencipta-Nya, hamba yang tidak lagi menjadi pemain di antara para pelaku maksiat lainnya yang menyebabkan datangnya murka Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Wallahu a’lam bisshawab.

Penulis: Hanifah Annisa (Koordinator Dakwah IPMI Pinrang)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *