Sobat pelajar, tahukah kita! bahwa guru merupakan orang tua kita di sekolah. sejak sekolah dasar, kita tentu sudah diajarkan materi mengenai cara menghormati guru. Melalui guru, kita mendapatkan banyak ilmu dari yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu.
Belakangan ini, sering kita jumpai beberapa fenomena mengenai siswa yang tidak menghormati guru. Salah satunya adalah fenomena siswa yang tidak menerima saat ditegur oleh gurunya ketika ia berbuat kegaduhan di kelas. Selain itu, siswa tidak memperhatikan penjelasan guru saat di kelas dengan seksama dan malah asyik bermain game, ngobrol, tidur dan sebagainya seakan-akan penjelasan guru tersebut tidak penting baginya. Apalagi saat pembelajaran online tidak sedikit siswa yang mengabaikan adab-adab kepada guru. Perbuatan semacam ini sungguh tidak pantas untuk dicontoh yaa, Sobat Pelajar!
Sebagai seorang muslim dan penuntut ilmu, kita perlu memperhatikan adab-adab kepada guru agar ilmu yang kita pelajari mendapat keberkahan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Lantas apa sih “keberkahan” itu?
Menurut Imam Al-Ghazali, keberkahan (barokah) adalah ziyadatul khair atau bertambahnya nilai kebaikan. Ilmu yang berkah ialah ilmu yang dapat bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain serta ada nilai kebaikan yang terus bertambah di dalamnya. Keberkahan ilmu dapat diraih dengan meluruskan niat kita ketika menuntut ilmu yaitu mencari ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala, baik itu ilmu akhirat maupun ilmu duniawi. Selain niat, supaya kita mendapat keberkahan ilmu, maka penuntut ilmu harus memperhatikan adab-adab terhadap gurunya.
1. Menghormati Guru
A. Diam ketika ia Berbicara
Para Salaf adalah suri tauladan untuk manusia setelahnya, yang telah memberikan contoh dalam penghormatan terhadap seorang guru. Sahabat Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu berkata,
كنا جلوساً في المسجد إذ خرج رسول الله فجلس إلينا فكأن على رؤوسنا الطير لا يتكلم أحد منا
Artinya: “Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara.” (HR. Bukhari).
B. Meminta Izin untuk Berbicara atau Bertanya
Berkata Abdurahman bin Harmalah Al Aslami,
ما كان إنسان يجترئ على سعيد بن المسيب يسأله عن شيء حتى يستأذنه كما يستأذن الأمير
Artinya: “Tidaklah sesorang berani bertanya kepada Said bin Musayyib, sampai dia meminta izin, layaknya meminta izin kepada seorang raja.”
C. Tawadhu (rendah hati) Kepadanya
Diriwayatkan oleh Al–Imam Baihaqi, Umar bin Khattab mengatakan,
تواضعوا لمن تعلمون منه
Artinya: “ Tawadhulah kalian terhadap orang yang mengajari kalian”.
2. Memperhatikan Adab ketika berada di Hadapan Guru
A. Adab Duduk
Walau terdengar sepele, hendaknya kita memperhatikan adab duduk ketika bersama guru. Adab duduk tersebut antara lain:
- Tidak membentangkan kaki
- Tidak bersandar dalam majelis
- Rapi dan tenang saat duduk
- Mata tertuju kepada guru
- Tidak duduk bertelekan
- Tidak duduk di tempat yang lebih tinggi dari guru
- Tidak membelakangi guru
B. Adab Berbicara
Berbicara dengan seseorang yang telah mengajarkan ilmu kepada kita haruslah lebih baik dibandingkan kita berbicara kepada orang lain, layaknya kita berbicara dengan kedua orang tua. Para shahabat Nabi Shallallahu ‘Alayhi Wasallam, muridnya Rasulullah, tidak pernah kita dapati mereka beradab yang buruk kepada gurunya tersebut, mereka tidak pernah memotong ucapannya dan mengeraskan suara di hadapannya, bahkan Umar bin Khattab yang terkenal berwatak keras tak pernah menarik suaranya di depan Rasullullah. Begitulah adab seorang murid kepada gurunya.
C. Adab Bertanya
Diantara adab yang baik ketika bertanya kepada guru adalah menyampaikan pertanyaan dengan tenang dan lembut, kalimat pertanyaan singkat jelas dan padat serta janganlah menanyakan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya dengan maksud untuk menguji kemampuan guru.
D. Adab Mendengarkan Pelajaran
Sobat Muslimah, bagaimana rasanya jika ketika kita sedang berbicara tapi tidak didengarkan? Tentu kita akan merasa sangat jengkel. Lantas bagaimana perasaan guru apabila muridnya yang sekaligus lawan bicaranya tidak mendengarkannya? Sungguh merugilah murid yang membuat gurunya jengkel.
Agama yang mulia ini tak pernah mengajarkan adab seperti itu, tak didapati di kalangan salaf adab yang seperti itu. Sudah kita ketahui kisah Nabi Musa yang berjanji tak mengatakan apa-apa selama belum diizinkan. Juga para sahabat Rasulullah yang diam pada saat Rasulullah berada di tengah mereka.
Sekarang ini sering kita saksikan murid ketika gurunya sedang berbicara ia asyik mengobrol dengan teman, bermain gadget atau bahkan mondar-mandir keluar kelas tanpa izin. Sungguh ini bukanlah adab seorang penuntut ilmu.
E. Mendoakan Guru
Banyak dari kalangan salaf berkata,
ما صليت إلا ودعيت لوالدي ولمشايخي جميعاً
Artinya: “Tidaklah aku mengerjakan sholat kecuali aku pasti mendoakan kedua orang tuaku dan guru guruku semuanya.”
F. Memperhatikan Adab dalam Menyikapi Kesalahan Guru
Sungguh baik para Salaf dalam doanya,
اللهم استر عيب شيخي عني ولا تذهب بركة علمه مني
Artinya: “Ya Allah tutupilah aib guruku dariku, dan janganlah kau hilangkan keberkahan ilmuya dari ku.”
Seorang murid harus berbicara kepada gurunya jika ia melihat kesalahan gurunya. Adab dalam menegur merekapun perlu diperhatikan mulai dari cara yang sopan dan lembut saat menegur dan tidak menegurnya di depan orang banyak.
G. Sabar dalam Membersamainya
Tidak ada satupun manusia di dunia ini kecuali pernah berbuat dosa, sebaik apapun agamanya, sebaik apapun amalnya nya, sebanyak apapun ilmunya, selembut apapun perangainya, tetap ada kekurangannya. Tetap bersabarlah bersama mereka dan jangan berpaling darinya.
Al Imam As Syafi Rahimahullah mengatakan,
اصبر على مر من الجفا معلم ,فإن رسوب العلم في نفراته
“Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru
Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya”
Besar jasa mereka para guru yang telah memberikan ilmunya kepada manusia, yang kerap menahan amarahnya, yang selalu merasakan perihnya menahan kesabaran, sungguh tak pantas seorang murid ini melupakan kebaikan gurunya, dan jangan pernah lupa menyisipkan nama mereka di lantunan doamu. Semoga Allah memberikan rahmat dan kebaikan kepada guru guru kita. Semoga kita dapat menjalankan adab adab yang mulia ini. Wabillahi Taufiq
Penulis: Rezki Novela
(Anggota Pelatihan dan Pengembangan Muslimah (P2M) IPMI Kendari)










